Rabu, 23 Januari 2013

PEMBINAAN MANAJEMEN GUGUS PAUD DAN PUSAT KERJA GUGUS (PKG) KABUPATEN PACITAN TAHUN 2013



Pacitan – Dalam rangka untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tenaga pendidik PAUD dan tenaga kepandidikan/Pengelola PAUD yang memiliki kompetensi memadai dan komprehansif, maka pada tanggal 22 Januari tahun 2013, telah diselenggarakan kegiatan program Pembinaan Manajemen bagi Gugus PAUD dan Pusat Kerja Gugus (PKG)  se-kabupaten Pacitan yang dilaksanakan di Aula Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan. 

Dalam sambutan dan laporan Ketua Panitia penyelenggara,  yang dalam hal ini disampaikan oleh Ibu Sriati Wulansih, S.Pd.,M.Pd. yang menjabat sebagai Kepala Bidang PLS Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan, bahwa Kegiatan tersebut diikuti oleh 129 peserta dari 12 Kecamatan yang ada di Kabupaten Pacitan, yang meliputi unsur peserta dari ; Gugus PAUD, Pusat Kerja Gugus (PKG), Pengawas TK/SD, Penilik PAUD/PLS, IGTKI dan HIMPAUDI. Dalam kegiatan tersebut, Panitia penyelenggara menghadirkan 2 nara sumber  yaitu ; Bapak Suyadi, S.Pd,M.Pd. (Ketua Himpaudi Propinsi Jawa Timur) dan Bapak Drs. Totok Isnanto (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur).

Lebih lanjut disampaikan bahwa sejalan dengan digulirkannya program PAUD Terpadu, maka Gugus TK yang sebelumnya sudah berjalan untuk selanjutnya diperluas menjadi Gugus PAUD, dimana dalam satu gugus beranggotakan pendidik TK,TPA, KB, dan atau SPS. Gugus PAUD di Kabupaten Pacitan sudah terbentuk di seluruh kecamatan (12 Kecamatan). Dari setiap Gugus PAUD yang terbentuk tersebut adalah merupakan kumpulan dari 3-8 lembaga PAUD (Taman Kanak-Kanak , Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, atau Satuan PAUD Sejenis) yang berdomisili dalam area terdekat dalam satu kecamatan. Pembagian area menjadi sangat relatif, tergantung pada letak geografisnya.

Ada dua unsur keanggotaan di setiap Gugus PAUD  yang terdiri dari guru-guru  PAUD dan Kepala/Pengelola lembaga PAUD. Untuk guru-guru yang ada di setiap gugus tersebut memiliki program kerja gugus yang disebut dengan Kelompok Kerja Guru (KKG) PAUD yang merupakan wahana bengkel kerja guru-guru anggota gugus.  Sedangkan untuk Kepala /Pengelola lembaga PAUD  juga memiliki program kerja Gugus sebagai wahana bengkel kerja bagi Kepala/Pengelola lembaga PAUD yang mejadi anggota gugus. Kemudian Kumpulan dari beberapa Gugus PAUD yang terbentuk di setiap Kecamatan tersebut senjutnya akan membentuk wadah yang  dinamakan Pusat Kerja Gugus (PKG) PAUD Kecamatan. Dengan keberadaan PKG tersebut diharapkan akan mampu menjembatani upaya untuk memudahkan dalam melakukan pembinaan ke seluruh Gugus PAUD.  Selajutnya dalam rangka untuk lebih mengoptimalkan fungsi Gugus PAUD dan PKG yang merupakan representatif gugus se kecamatan, maka Direktorat Pembinaan PAUD telah memfasilitasi berupa bantuan stimulan bagi pembinaan Gugus melalui PKG.

Pembentukan Gugus PAUD tersebut juga dimaksudkan sebagai upaya solusi untuk mengatasi permasalahan mendasar yaitu kurangnya akses pendidik PAUD untuk mendapatkan pembinaan yang terencana dengan baik, intensif dan berkesinambungan dalam bentuk pendidikan maupun pelatihan secara optimal sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Untuk membentuk Gugus PAUD diperlukan keterbukaan dan komitmen kuat semua pihak, karena sangat memungkinkan keanggotaan Gugus TK yang sudah sejak lama ada nantinya akan berubah atau bertambah dengan masuknya pendidik TPA, KB, dan SPS.  

Dengan komitmen bersama untuk memajukan pendidikan anak usia dini yang berkualitas di Indonesia dimasa depan, maka diyakini keberadaan Gugus PAUD adalah salah satu alternatif solusi yang tepat dan strategis bagi percepatan peningkatan kualitas pendidik  dan tenaga Kependidikan/Pengelola PAUD di Indonesia.  (HSW) 

MUSYAWARAH DESA GEMBUK UNTUK MEWUJUDKAN RANCANGAN PERATURAN DESA TENTANG PAUD HOLISTIK INTEGRATIF



Pacitan - Upaya sungguh-sungguh yang ditunjukkan oleh masyarakat Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan dalam rangka mewujudkan adanya jaminan keberlanjutan  bagi lembaga layanan PAUD holistik integratif  yang  sudah dirintisnya dengan susah payah, mulai menunjukkan hasilnya.  Langkah terobosan ini  terus bergulir sejak selesainya dukungan pendanaan dari Program PPAUD yang telah berakhir pada tahun 2010 yang lalu, dimana masyarakat desa Gembuk secara mufakat bertekad untuk melanjutkan dan mengembangkan layanan Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini  secara mandiri.  Salah satu wujud komitmen yang sudah berhasil dilaksanakan adalah dengan membuat program desa untuk penggalian dana partisipasi masyarakat untuk PAUD sebesar Rp.1.000,- setiap KS  melalui pembayaran listrik setiap bulannya. Dan terbukti sampai saat ini program tersebut masih berjalan dengan baik dan lancar.

Namun demikian upaya terobosan yang sudah berjalan tersebut ternyata oleh masyarakat masih dianggap belum cukup memberikan jaminan bagi keberadaan dan keberlangsungan layanan PAUD  di Desa Gembuk untuk jangka panjang.  Ada beberapa pihak yang berpendapat bahwa program desa untuk menarik sumbangan Rp. 1.000,- tersebut masih dirasa belum bisa menjawab kebutuhan mendasar yang dibutuhkan oleh masyarakat. Sebagai contoh apabila sewaktu-waktu terjadi pergantian kepemimpinan di desa gembuk, maka tidak ada jaminan program tersebut masih bisa dipertahankan. Karena berdasarkan pengalaman yang ada bahwa setiap kali terjadi pergantian kepala desa, maka biasanya berbagai kebijakan dan prioritas pembangunan desa juga sedikit banyak mengalami perubahan juga , dan bahkan bisa jadi arah kebijakan pemimpin yang baru belum tentu sejalan dengan peraturan dan kebijakan pemimpin sebelumnya. Kalau demikian, lalu bagaimana caranya agar hal-hal seperti itu tidak terjadi dan justru akan merugikan kepentingan masyarakat.

Dengan mendasarkan kepada berbagai alasan tersebut, maka masyarakat Desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten pacitan terus melakukan koordinasi dengan pihak pemerintahan Desa untuk mencari dan menemukan cara yang tepat demi terwujudnya jaminan bagi keberlanjutan layanan PAUD di Desa Gembuk dalam jangka panjang tersebut.  Kemudian setelah melalui beberapa kali tahapan panjang proses pembahasan melalui musyawarah desa yang difasilitasi oleh Tim Fasilitator Masyarakat (TFM), maka diperoleh kesepakatan mengenai garis besar draft Rancangan Peraturan Desa Gembuk Tentang PAUD Holistik Integratif, untuk kemudian akan ditindaklanjuti oleh Tim Kecil (Task Force) yang akan bertugas untuk mengkaji dan melakukan finalisasi Rancangan Peraturan Desa  tersebut sebelum disahkan menjadi sebuah Peraturan Desa. Tim Kecil yang dibentuk terdiri dari keterwakilan berbagai unsur yang ada di desa dan bertanggungjawab untuk menyelesaikan rancangan Peraturan Desa (PERDES)tersebut.

Dari hasil pembahasan yang dilakukan oleh Tim kecil tersebut selanjutnya akan dibawa ke dalam musyawarah desa lagi untuk mendapatkan tanggapan dan kemungkinan revisi kembali sebelum di sahkan menjadi Peraturan Desa. Setelah melewati pembahasan tahap akhir, maka pada tanggal 14 Januari 2013 pihak Pemerintah Desa berinisiatif melakukan kegiatan Musyawarah Desa (MUSDES) untuk membahas rancangan akhir Peraturan desa tentang PAUD holistik integratif. Dalam Musyawarah Desa tersebut dihadiri oleh keterwakilan dari semua unsur yang  ada di desa Gembuk, seperti dari Pemerintahan Desa  (Perangkat Desa), BPD, Tokoh Masyarakat dan tokoh Agama, PKK, Karang Taruna, Kader Posyandu, Bidan Desa, dan perwakilan orang tua dari masing-masing dusun (dukuh). Untuk membantu kelancaran dan efektifitas pada proses Musyawarah Desa tersebut, maka dalam kegiatan tersebut Pihak Pemerintah Desa meminta untuk difasilitasi langsung oleh Tenaga Ahli Kabupaten Pacitan dan dibantu oleh Tenaga Ahli ICBS dari Regional IV.   

Dari proses Musyawarah Desa yang berlangsung sangat  alot dan menguras energi tersebut, pada akhirnya membuahkan hasil akhir berupa Rancangan Peraturan Desa tentang PAUD Holistik Integratif  Desa Gembuk. Dengan demikian maka Masyarakat Desa Gembuk telah mencatatkan diri sebagai Desa pertama dari 50 Kabupaten Sasaran Program PPAUD di Indonesia yang telah berhasil memiliki Peraturan Desa tentang PAUD Holistik Integratif. Dan dengan lahirnya Peraturan Desa tentang PAUD Holistik Integratif tersebut diharapkan nantinya setiap kebijakan dan arah pembangunan PAUD desa Gembuk, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan harus sejalan dan mengacu kepada peraturan Desa tersebut secara konsisten dan berkelanjutan. (HSW)

Senin, 19 November 2012

GERAKAN BUDAYA MENABUNG SEJAK USIA DINI


“Dengan menabung, maka kita bisa dan berani membuat rencana untuk menggapai cita-cita. Dan dengan menabung kita akan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan hidup.”



Sejak dilantiknya Hj. Luki Tri Baskorowati Indartato sebagai Bunda PAUD Kabupaten Pacitan, berbagai program kerja inovatif dan strategis terus dilakukan melalui beragam kegiatan seperti sosialisasi, pembinaan dan kunjungan lapangan atau yang lebih dikenal oleh masyarakat Pacitan dengan istilah “Tilik Warga”. Sebagai langkah awal, Bunda PAUD Kabupaten Pacitan juga telah melantik Bunda PAUD Kecamatan dan ditindaklanjuti dengan pelatikan Bunda PAUD di tingkat Desa. Dengan demikian diharapkan nantinya setiap program layanan masyarakat khususnya layanan anak usia dini yang ada dapat ditindaklanjuti dan dikembangkan oleh masyarakat dengan baik dan berdampak nyata bagi anak-anak usia dini dimasa depan.

Program “Tilik Warga” tersebut merupakan program kerja yang menjadi kegiatan rutin Bupati Pacitan dalam rangka untuk mengetahui dan mengevaluasi tingkat capaian implementasi berbagai program yang sedang dan sudah dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan dan sekaligus untuk menggali aspirasi dan masukan langsung dari masyarakat. Dalam setiap kunjungan ke masyarakat tersebut, Bupati Pacitan selalu menyempatkan diri untuk melihat kondisi berbagai fasilitas seperti Sekolah, Puskesmas, Posyandu, sarana prasarana jalan dan lain-lain. Dan bahkan Bupati Pacitan juga sudah menyatakan komitmennya pada saat menyampaikan pidato pembukaan workshop Evaluasi program PPAUD tingkat Kabupaten pada tahun 2011 bahwa seluruh PAUD ditargetkan harus sudah memiliki gedung sendiri yang representatif dan memenuhi standar sampai dengan sebelum berakhir masa kepemimpinannya pada tahun 2016. Untuk mewujudkan keberhasilan program yang telah dicanangkan tersebut maka Bupati Pacitan menginstruksikan kepada seluruh SKPD terkait untuk mendukung secara optimal dengan cara mensinergikan berbagai program yang ada secara terpadu. 


Salah satu kegiatan inovasi yang sedang gencar disosialisasikan dan terus digalakkan saat ini adalah “gerakan budaya menabung sejak usia dini” melalui kegiatan program layanan PAUD, Taman Posyandu dan Bina Keluarga Balita. Gerakan budaya menabung ini dipilih karena program ini sejalan dengan visi dan misi Bupati Pacitan, yaitu “ Gerakan Masarakat Pacitan Gemar Menabung”. Dimana dengan gerakan masyarakat Pacitan gemar menabung tersebut dimaksudkan agar nantinya akan mampu memembangun masyarakat yang mandiri, berpikir untuk masa depan, dan punya modal untuk membangun. Dengan cara ini masyarakat dilatih untuk hemat, mau bekerja keras dan bekerja cerdas. Diharapkan keluarga yang memiliki kesadaran menabung akan menjadi keluarga sejahtera melalui budaya hemat dan bekerja keras. Gerakan Budaya Menabung merupakan pelajaran praktis kepada setiap penduduk, utamanya keluarga pra sejahtera, keluarga yang tidak selalu miskin, tetapi dengan goncangan ekonomi sedikit saja bisa jatuh miskin. Setiap keluarga bisa maju dan tidak miskin kalau latar belakang pendidikannya cukup, tidak banyak anak, sehingga bisa disekolahkan dengan tuntas, rajin menabung karena berpikiran untuk masa depan, serta berkesempatan mengembangkan usaha yang hasilnya bisa untuk membangun keluarga sejahtera dan mandiri.

Yang menarik dari gerakan budaya menabung ini adalah adanya pemanfaatan potensi alam lokal berupa bambu dan limbah bahan alam lainnya sebagai media celengan untuk menabung bagi anak-anak usia dini yang diharapkan nantinya pembuatan media celengan bambu tersebut dibuat oleh orang tuanya sendiri. Hal ini dimaksudkan juga sebagai media untuk memotivasi kreativitas dan kesadaran bagi orang tua akan pentingnya melatih anak-anak untuk terbiasa menabung sejak dini. Dengan demikian orang tua sekaligus dituntut untuk mengeluarkan kreativitasnya untuk membuatkan celengan bambu yang semenarik mungkin dan disukai anak-anaknya agar semakin rajin menabung.

Menurut penjelasan Hj. Luki Tri Baskorowati Indartato selaku Bunda PAUD Kabupaten Pacitan, bahwa “Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan berkomitmen untuk berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar menjadi generasi yang unggul dan berkarakter mulia di masa mendatang baik dalam bidang pendidikan, kesehatan dan sosial ekonominya. Untuk itu maka Pemerintah Daerah Kabupaten Pacitan, dengan melalui program-program yang ada tersebut harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Dalam hal ini termasuk program-program layanan bagi anak-anak usia dini seperti PAUD dan Posyandu. Salah satu Strategi dan pendekatan yang dilakukan yaitu melalui kerjasama lintas sektor seperti BAPPEDA, Dinas Pendidikan dan kebudayaan, KBPP, Dinas Kesehatan, Kementerian Agama, Dinas Sosial, BAPEMAS, HIMPAUDI, Tim Penggerak PKK, Bunda PAUD Kecamatan dan Desa, dalam rangka mensosialisasikan gerakan budaya menabung sejak usia dini kepada masyarakat.

Bunda PAUD Kabupaten Pacitan berharap bahwa nantinya anak-anak dan masyarakat Pacitan ke depan harus lebih berkualitas dan memiliki karakter yang kuat sehingga nantinya mereka akan mampu menyongsong dan siap menghadapi perubahan zaman secara lebih baik. Untuk itu maka kegiatan sosialisasi tentang “gerakan budaya menabung sejak dini” ini diharapkan tidak hanya menjadi gerakan sesaat saja, akan tetapi harus terus disosialisasikan secara konsisten, terpadu, menyeluruh dan menjadi program strategis yang berkelanjutan. Selain itu bahwa gerakan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menanamkan karakter disiplin, hemat dan bertanggungjawab yang dimulai dengan gerakan gemar menabung sejak usia dini. Pemerintah Daerah sangat menyadari bahwa program ini akan sulit terlaksana tanpa dukungan dari orangtua dan seluruh lapisan masyarakat. Dalam hal ini peran serta orangtua untuk mengajarkan anak menabung sejak dini juga harus terus ditingkatkan.

Selain itu melalui gerakan budaya menabung ini diharapkan juga akan mampu meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya memiliki perencanaan keluarga yang baik. Keluarga dan masyarakat terutama di pedesaan belum terbiasa membuat perencanaan dan pengelolaan ekonomi rumah tangga yang sebetulnya sangat bermanfaat untuk dapat menjamin masa depan keluarganya menjadi lebih baik. Dengan Gerakan menabung sejak usa dini, dimaksudkan agar anak-anak bisa semakin senang menabung serta mengajarkan kepada mereka untuk hidup hemat sehingga dapat menekan pola hidup konsumtif sejak usia dini.

Melalui pembinaan yang intensif diharapkan akan menghasilkan layanan anak usia dini dapat tumbuh, kuat, besar, berkualitas dan mandiri. “Kami menyadari, bahwa dalam melaksanakan pembinaan dan pengembangan PAUD adalah tidak mudah, penuh tantangan dan kendala. Untuk itu, diperlukan perhatian dan komitmen yang tinggi. Tingkatkan terus sinergi dan kerjasama antar program yang ada, beri dukungan dan fasilitasi baik dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia, kelembagaan dan usaha, serta kemudahan lembaga PAUD dalam mengakses perizinan maupun pendanaan melalui pelayanan yang cepat, mudah, dan murah”.

Sebetulnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi munculnya gagasan ini sehingga gerakan budaya menabung sejak usia dini tersebut menjadi pilihan program prioritas yang akan disosialisasikan dan digalakkan. Hal ini setelah mempertimbangkan berbagai hal termasuk berdasarkan hasil analisa dan laporan yang masuk atas temuan lapangan melalui monitoring dan evaluasi terpadu lintas sektural, maka diketahui beberapa temuan sebagai berikut :
  1. Masih rendahnya minat dan kebiasaan menabung bagi masyarakat pedesaan di Kabupaten Pacitan.
  2. Rendahnya pengetahuan dan kemampuan dalam Pengelolaan ekonomi rumah tangga (PERT).
  3. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk membiasakan diri membuat dan memiliki perencanaan keluarga secara baik untuk lebih menjamin masa depan keluarganya.
  4. Budaya menabung (celengan) saat ini semakin tidak populer dikalangan anak-anak.
  5. Terbatasnya akses masyarakat terhadap lembaga keuangan yang ada untuk meningkatkan produktivitasnya menuju kesejahteraan dan kemandirian.
Berdasarkan hasil analisa dan peta permasalahan tersebut, maka tahapan dan langkah-langkah kegiatan yang direncanakan maupun yang sudah dilakukan adalah sebagai berikut :
  1. Sosialisasi dan Penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya pembiasaaan dan manfaat menabung sejak usia dini.
  2. Meberikan pelatihan dan praktek kepada orang tua untuk membuat celengan dari bambu dan bahan bekas.
  3. Memberikan contoh praktek menabung sejak dini melalui kegiatan yang di integrasikan dengan layanan PAUD dan Taman Posyandu.
  4. Memberikan motivasi agar anak-anak rajin dan semangat untuk menabung sejak dini.
“Untuk itu semangat gotong-royong dan kebersamaan harus dijadikan sebagai salah satu spirit dalam pemberdayaan PAUD secara integral dari seluruh komponen. Tingkatkan pembinaan dan pengembangan layanan PAUD dengan jiwa, semangat, prinsip dan nilai-nilai perjuangan serta pengabdian untuk pemenuhan kebutuhan yang terbaik bagi anak usia dini di Kabupaten Pacitan. Dengan gerakan budaya menabung sejak usia dini tersebut maka diharapkan nantinya masyarakat akan tumbuh kesadaran betapa pentingnya pembisaan hidup hemat, disiplin serta terbiasa memiliki perencanaan hidup yang baik dengan cara menabung sejak dini. Karenanya program-program semacam ini harus terus kita galakkan”, tambahnya.

(Nara Sumber : Bunda PAUD Kabupaten Pacitan)

Jumat, 09 November 2012

TIPS PEMBELAJARAN OPTIMAL ANAK USIA DINI


Setiap Orang tua pasti mengharapkan agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Untuk mewujudkan impian tersebut maka tidak sedikit orang tua yang hingga secara sukarela mau mengekuarkan biaya yang besar bagi pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang anak-anaknya secara optimal. Tetapi tahukah anda bawa sesungguhnya besarnya biaya yang dikeluarkan bukanlah menjadi jaminan bahwa nantinya anak-anak mereka akan mendapatkan stimulasi yang memadai dan optimal sesuai kebutuhan anak.
Apalagi masih banyaknya anggapan orang tua bahwa tugas dan tanggungjawab utama untuk memberikan pendidikan adalah pihak lembaga sekolah. Padahal kita tahu bahwa sebagian besar waktu yang dihabiskan anak-anak adalah bersama orang tua dan keluarganya, sementara waktu yang dibutuhkan di sekolah hanya sebagian kecil saja. Untuk itu sebenarnya setiap Orang tua perlu memiliki pengetahuan dan kemampuan yang cukup untuk merawat dan mendidik anak agar kebutuhan tumbuh kembang anak dapat diberikan secara optimal sesuai usiannya.

Berikut beberapa tips dan pengetahuan yang perlu dimiliki oleh orang tua dalam upaya merawat dan mendidik anak usia dini :
  1. Tahukah anda bahwa untuk mengajak anak belajar perlu teknik dan strategi tersendiri, termasuk soal pemilihan suasana hati dan waktunya.
  2. Anak diajak belajar saat hatinya dalam keadaan senang dan tubuhnya dalam keadaan bugar.
  3. Pola belajar terbaik adalah saat anak merasakan senang. Sedangkan waktu terbaik adalah pagi-pagi sesudah bangun tidur, dan menjelang tidur.Mengajak anak belajar di siang hari justru bukanlah waktu terbaik, karena anak dalam keadaan lelah.
  4. Ketika anak dalam keadaan senang, sistim limbik di dalam otak terbuka. Sistem limbik adalah pusat emosi, dimana ketika anak dalam keadaan senang, maka sistem informasi akan terbuka dan tersimpan di dalam korteks.
  5. Kalau anak dalam keadaan tidak senang, informasi dan materi sebaik apa pun tidak akan masuk dan tersimpan di dalam otaknya.
  6. Sedangkan, pada saat setelah sholat subuh dan menjelang tidur, anak memiliki gelombang alfa, dan memiliki tingkat konsentrasi yang penuh. Sehingga hal tersebut adalah momen yang tepat untuk menyampaikan informasi dan langsung masuk ke dalam area korteksnya. Hal itulah yang menyebabkan orang jaman dulu selalu suka mendongeng sebelum tidur kepada anaknya. Bahkan, hingga dewasa pun sang anak masih mengingatnya.
  7. Yang perlu diingat dan diperhatikan oleh orang tua agar tidak menumpuk semua bahan belajar bagi anak. Karena, hal tersebut justru membuat anak menjadi tidak fokus.
  8. Selain itu, perlu diperhatikan untuk memberi waktu istrirahat yang cukup ketika dan selama proses belajar. Hal ini sangat penting untuk merefresh otak anak. 
  9. Jangan belajar full, tetapi imbangi dengan take a rest, misalnya bermain games, curhat dan sebagainya. Sifat resting itu pada dasarnya hanya berpindah kepada hal lainnya, dari apa yang dia pikirkan.
  10. Pada dasarnya anak bisa belajar berjam-jam. Tetapi orang tua perlu mengetahui, bahwa dalam kematangan otaknya, anak butuh kondisi lain untuk merefresh otaknya. Hasil penelitian membuktikan bahwa 7-17 menit anak-anak harus refresh dengan kegiatan lain.
Semoga bermanfaat ...

Pingin Tahu Tentang Program PPAUD ? Segera Hubungi Kami !!!

Pingin Tahu Tentang Program PPAUD ? Segera Hubungi Kami !!!